Artikel • Detail Artikel

Toleransi Dalam Perspektif Islam

Tanggal diterbitkan: 01/02/2017


Oleh : Agus Hendra, Humas PPTQ Misbahunnur

Islam secara harfiah dimaknai tunduk, patuh, dan pasrah, keselamatan, kemanan dan kedamaian. Jadi, berdasarkan pemaknaan di atas, sebagai seorang muslim dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara harus bisa menjadi pemberi keselamatan, senantiasa menciptakan kerukunan dan memberi rasa aman kepada orang lain, atau yang disebut dengan toleran.

Sikap toleransi sangatlah penting sebagai alat pemersatu bangsa. Tanpa adanya toleransi kehidupan yang penuh dengan kemajemukan dan perbedaan ini tidak akan pernah bersatu. Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kemanjemukan yang cukup tinggi. Suku, budaya yang cukup beragam dan bahasa daerah yang cukup banyak, maka sangat dibutuhkan sikap toleransi yang diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dalamnya. Setiap orang harus saling mengerti dan memahami akan arti perbedaan. Namun fenomena yang terjadi akhir-akhir ini masih banyak terjadi gejolak sosial yang timbul dari akibat kurang bisa menegakkan sikap toleransi, khususnya sikap toleransi antarumat beragama. Toleransi merupakan bagian dari visi teologi islam sejatinya harus dikaji  secara mendalam dan diaplikasikan dalam kehidupan beragama karena ia adalah suatu keniscayaan sosial bagi seluruh umat beragama dan merupakan jalan bagi terciptanya kerukunan antarumat beragama.

Toleransi atau as-samahah (arab) adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama diantara kelompok masyarakat yang berbeda-beda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Oleh karena itu toleransi merupakan konsep yang bagus dan mulia yang sepenuhnya menjadi bagian organik dari ajaran agama-agama termasuk agama islam.

Dalam konteks toleransi antar-umat beragama, islam memiliki konsep yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam agama, bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami” adalah contoh populer dari toleransi dalam islam. Fakta-fakta historis itu menunjukan bahwa masalah toleransi dalam islam bukanlah konsep asing atau ghorib. Toleransi adalah bagian integral dari islam itu sendiri yang detail-detailnya kemudian dirumuskan oleh para ulama dalam karya-karya tafsir mereka. Kemudian rumusan-rumusan ini disempurnakan oleh para ulama dengan pengayaan-pengayaan baru sehingga pada akhirnya menjadi praktik kesejahteraan dalam masyarakat islam.

Istilah lain, toleransi berasal dari kata “tolerare” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Toleransi dalam bahasa belanda adalah “tolerantie”, sedangkan dalam bahasa inggris adalah “tolerantion”.

Toleransi menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) terhadap pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan dan kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Konsep toleransi atau tasamuh dalam pandangan islam mengandung konsep rahmatal lil ‘alamin. Sekalipun Al-Qur’an tidak secara tegas menjelaskan tentang tasamuh, namun banyak ditemui beberapa tema yang terkait dengan ini, diantaranya rahmat dan kasih sayang (QS Al-Balad), Al-Afw atau memaafkan (QS An-Nur:22), Al-Safh atau berlapang dada (QS Al-Zukhruf: 89), Al-Salam atau keselamatan (QS Al-Furqon : 63), Al-‘Adl atau keadilan, Al-Ihsan atau kebaikan (QS An-Nahl:90) dan Al-Tauhid yang berakna menuhankan Allah Swt (QS Al-Ikhlas : 1-4).

Sikap Toleransi :
Sikap toleransi dan menghargai tidak hanya berlaku terhadap orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri, bahkan sikap toleran harus dimulai dari diri sendiri. Rasulullah saw mengingatkan agar ia memperhatikan dirinya dan memberi hak yang proporsional: “sesungguhnya  tubuhmu punya hak (untuk kamu istirahtkan) matamu punya hak (untuk dipejamkan) dan istrimu juga punya hak (untuk dinafkahkan)”. (HR Bukhori).

Secara doktrinal, toleransi sepenuhnya diharuskan oleh islam. Islam secara definisi adalah agama yang damai, selamat dan menyerahkan diri. Definisi islam yang seperti demikian seringkali dirumuskan dengan istilah “islam adalah agama yang rahmatal lil ‘alamin” (agama yang mengayomi seluruh alam). Artinya islam selalu menawarkan dialog dan toleransi dalam bentuk saling menghormati bukan memaksa. Islam menyadari bahwa keragaman umat manusia dalam beragama adalah kehendak Allah Swt. Dalam islam, toleransi berlaku bagi semua orang, baik itu sesama muslim maupun non-muslim. Yusuf Qordhowi  dalam bukunya “Ghoir Al-Muslim Fil Mujtama”. Al-Islam menyebutkan ada empat faktor utama yang menyebabkan toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat islam terhadap non muslim, yaitu :

  1. Keyakinan bahwa manusia itu hakikat penciptaannya merupakan makhluk paling mulia dari makhluk lain, apapun agamanya, kebangsaannya dan rasnya.
  2. Adanya perbedaan bahwa manusia dalam agama dan keyakikan merupakan realitas yang dikehendaki Allah Swt yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman dan kufur.
  3. Seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran seorang non muslim atau menghakimi kafir dan muysriknya orang lain. Hanya Allah swt yang akan menghakiminya nanti di akhirat.
  4. Keyakinan bahwa Allah swt memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti yang baik meskipun kepada orang musyrik sekalipun. Allah Swt juga mencela perbuatan dholim meskipun terhadap kafir.

Terhadap mereka yang berbeda agama dan keyakinan, Al-Qur’an telah menetapkan prinsip tidak ada paksaan dalam beragama (Qs Al-Baqoroh : 256). Sebab kebebasan beragama merupakan bagian dari penghormatan terhadap hak-hak manusia yang sangat mendasar.

(bersambung)…

Kegiatan Cimahi

Headline News