Pencarian :

Artikel • Detail Artikel

Potensi Kekayaan Hayati Tanaman Reundeu Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat

Tanggal diterbitkan: 09/02/2018


Oleh : Elivas Simatupang dan Warda Nouvel (Bappeda Kota Cimahi)

‘Cireundeu–Cimahi’, begitu kita mendengarkan nama tersebut biasanya persepsi pembaca akan langsung mengkaitkannya dengan sebuah kampung adat di Jawa Barat atau dengan sebuah produk unggulan berupa Rasi atau beras nasi yang terbuat dari olahan singkong beracun, Sunyoto dan Yuliana (2016). Warga masyarakat di kampung ini memang telah lama memelihara pengetahuan dan praktik budaya ketahanan pangan warisan karuhun-nya. 

Tetapi taukah anda bahwa selain kekayaan budaya dan kulinernya berupa Rasi maupun produk-produk turunanya ternyata ada kekayaan hayati yang belum tergali yang asli berasal dari daerah ini. Tulisan ini tidak bertujuan untuk menjadi terlalu ilmiah, melainkan secara lebih ringan memperkenalkan sebuah potensi unik yaitu tanaman yang bernama Reundeu. Adapun citation dilakukan sebagai upaya menghargai dan mengakui hasil karya dan pemikiran peneliti-peneliti sebelumnya. 

Tanaman yang dalam bahasa Sunda disebut Reundeu ini bernama ilmiah Staurogyne elongata. Tidak banyak arsip ataupun dokumen resmi Pemerintah Kota Cimahi yang dapat menjelaskan apa hubungan antara tanaman ini dengan wilayah Cireundeu walaupun nama wilayah ini sebetulnya sangat dekat dengan nama daun tersebut. 

Gambar Penampakan Daun atau Tanaman Reundeu 
(Staurogyne elongata)

Foto oleh Elivas

Beberapa artikel seperti yang ditulis oleh Fadhilah (2014), Gunardi dkk (2015) dan Gustiani dan Utami (2017) menyebutkan nama daerah Cireundeu yang berada di Kelurahan Leuwigajah Kota Cimahi berasal dari dua buah kata yaitu ‘ci” yang berarti air dan ‘reundeu’ yang berasal dari daun Reundeu. Dengan demikian patutlah diduga bahwa dulunya kampung ini memiliki hubungan historis dan budaya yang sangat kuat dengan air dan tanaman Reundeu. Di beberapa kampung adat seperti di kampung adat Kasepuhan Ciptagelar dan Ciptarasa di kaki Gunung Halimun, Kabupaten Sukabumi, (Rahayu dan Harada, 2004) tanaman ini biasa dimanfaatkan sebagai lalapan atau obat herbal. Demikian juga pada kampung Budaya Jalawastu di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Akan tetapi, cukup mengherankan kerena saat triangulasi informasi ke lapangan dilakukan ternyata banyak yang tidak mengetahui rupa bahkan kegunaan atau manfaat daun ini, bahkan salah satu pengurus adat yang bernama Bpk. Asep Abbas dan beberapa perempuan paruh baya dari kelompok penganut kepercayaan Sunda Wiwitan di Cireundeu memiliki bayangan bahwa daun ini berasal dari sebuah pohon yang besar yang sudah punah dahulu kala. Walaupun ada beberapa warga yang mengetahui dan mampu menunjukan rupa tanaman ini, ternyata mereka tidak mengetahui bahwa nama wilayah atau kampung adat mereka memiliki korelasi dengan tumbuhan tersebut. Banyak ketidak jelasan informasi hubungan antara tamanan ini dengan kampung adat tersebut, lebih jauh lagi tampaknya terdapat ‘benang sejarah dan budaya’ yang terputus dalam kehidupan adat kampung tersebut dikaitkan dengan tanaman tersebut. 

Utami (2008)  dan Maharani (2015) menyampaikan ciri-ciri fisik tanaman ini adalah sebagai berikut:
a. Batang tubuh tegak dengan tinggi sampai 15cm
b. Tangkai lemah dan berdaging banyak
c. Daun panjang, besar, rata dan saling berhadapan
d. Bunga berwarna ungu dan muncul dalam tandan
e. Menurut web site Menara Herbal tanaman ini dapat dibudidayakan dengan metode stek batang atau penanaman biji.

Yang menarik adalah bahwa melalui pengamatan di lapangan, di Cireundeu Kota Cimahi, tanaman ini dapat ditemukan di pekarangan-pekarangan rumah yang teduh, lembab atau di pinggir sungai yang airnya jernih dan tidak terkontaminasi limbah.

Biasanya bagian dari tanaman yang dapat dimanfaatkan adalah daun dan akar. Tanaman ini memiliki potensi dan peluang yang cukup besar tidak hanya mendukung penguatan budaya ketahanan pangan yang selama ini sudah dijalankan melalui program Desa Ketahanan Pangan (Dewitapa) tetapi juga bisa dikembangkan menjadi sumber penggerak ekonomi lokal baru melalui pengembangan rantai nilainya. 

Masih sangat terbatas jumlah riset yang dilakukan untuk menguak dampak farmakologi tamanan Reundeu ini. Beberapa litelatur menyampaikan bahwa tamanan ini memiliki kelebihan diantaranya:
1. Sebagai antimikrob dan bakteri filosfer reundeu aktif mampu menghambat bakteri gram positif seperti Escherichia coli dan bakteri gram negatif seperti Bacillus subtilis dan Staphylococcus auereus (Rizqoh dkk, 2009)
2. Mengobati sulit berurine (buang air kecil)
3. Mengobati  batu ginjal dan batu kandung kemih (Noviandi, 2014)
4. Mengobati penyakit persendian (Handayani 2015)

Adapun potensi yang dapat dikembangkan dengan bahan dasar daun ini adalah:
1. Daun muda dapat langsung dijadikan lalap mentah ataupun setengah matang
2. Bahan sabun anti septik atau sabun kecantikan
3. Komponen anti bakteri pada makanan
4. Jamu
5. Atau pun minuman ringan kesehatan
6. Teh daun Reundeu atau model simplifier lainnya 

Sangat disayangkan bahwa jika memang benar pemberian nama kampung Cireundeu ini diambil dari nama tanaman herbal tersebut maka seyogyanya tanaman ini mulai diteliti dan lebih lanjut lagi dikembangkan, bahkan jika mungkin pemanfaatannya digalakan kembali dalam kehidupan keseharian masyarakat kampung adat Cireundeu. 

Argumen ini muncul bukan tanpa dasar, karena pasti ada sebuah praktik masa lalu yang begitu melekat dengan kehidupan masyarakat pada wilayah tersebut hingga penamaan wilayah mereka memiliki unsur air dan tanaman Reundeu. Pendapat ini didukung oleh kajian food ethnography atau etnografi pangan yaitu studi tentang budaya pangan etnik atau suku bangsa tertentu yang menunjukan bahwa terdapat hubungan erat antara makanan dan budaya (Saleha, 2005 dan Putranto dan Taofik, 2014). Beberapa contoh dapat dilihat pada masyarakat adat (tradisional) di luar negeri maupun di dalam negeri hususnya di Pulau Jawa contohnya adalah aktifitas mengkonsumsi Rasi pada Kelompok Adat Cireundeu itu sendiri maupun tindakan aktif memasukan daun Reundeu sebagai bagian dari menu konsumsi pada warga adat Dukuh Jalawastu Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes.

Hingga tulisan ini disusun belum terdapat penelitian formal mengenai tanaman yang ada di kampung adat Cireundeu ini. Akan tetapi cukup kuatlah pula jika perspektif toponimi (Gunardi dkk, 2015) digunakan untuk menduga bahwa tanaman yang ada di Kota Cimahi ini sebagai salah satu tanaman endemik wilayah Cireundeu mengingat sejarah yang panjang atas keberadaan masyarakat adat Cireundeu itu sendiri.

Bukan hanya pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan hayati ini diharapkan memberikan dampak positif bila dilihat dari sisi ekonomi, tetapi lebih dari pada itu aktifitas revitaliasi dan konservasi serta pemanfaatan tanaman ini akan memiliki nilai historis dan budaya yang didukung oleh penamaan wilayah Cireundeu itu sendiri. Melalui penerapan konsep place branding atau penamaan merek berbasis nama wilayah ataupun penerapan konsep indikasi geografis (geographical indication) ‘Cireundeu’ akan menjadikan produk-produk olahan asli yang dihasilkan oleh warga di kampung tersebut memiliki kekhasan dibandingkan dengan produk sejenis yang dihasilkan oleh wilayah lain, dan ini sejatinya merupakan berkah atau manfaat dari sejarah, budaya, kearifan lokal dan pengetahuan yang telah diwariskan oleh para pendahulu (karuhun) Sunda di Kota Cimahi.

Melalui tulisan ini diharapkan agar masyarakat hususnya pemangku kepentingan di Kota Cimahi mulai peduli dan melaksanakan penelitian secara formal mengenai sejarah, kekhasan, manfaat farmakologis dan kemungkinan pengembangannya menjadi salah satu produk unggulan kota tanpa melupakan aspek budayanya. Upaya pengembangan kekayaan hayati ini bisa dilaksanakan dengan menerapkan model pemberdayaan berbasis kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) agar dampak positif ekonomi, sosial dan lingkungan hidupnya dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal atau Buku

Agromedia Pustaka (2008). Buku pintar tanaman obat: 431 jenis tanaman penggempur aneka penyakit.  Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta : Agromedia Pustaka, 2008.

Fadhilah, Amir (2014). Budaya Pangan Anak Singkong dalam Himpitan Modernisasi Pangan : Eksistensi Tradisi Kuliner Rasi (Beras Singkong) Komunitas Kampung Adat Cireundeu Leuwi Gajah Cimahi Selatan Jawa Barat. Website: http://www.academia.edu/30168676/Budaya_Pangan_Anak_Singkong_dalam_Himpitan_Modernisasi_Pangan_Eksistensi_
Tradisi_Kuliner_Rasi_Beras_Singkong_Komunitas_Kampung_Adat_Cireundeu_Leuwi_Gajah_Cimahi_Selatan_Jawa_Barat. Diakses pada tanggal 23 Januari 2018

Gugun Gunardi,  Sutiono Mahdi, Dewi Ratnasari, dan Cece Sobarna (2015). Toponimi dan Lingkungan Hidup Kampung adat di tatar Sunda (Bandung). Website: eproceeding.undiksha.ac.id/index.php/senari/article/download/630/437, Diakses pada tanggal 23 Januari 2018.

Gustiani, Herawati Murti dan Utami, Dian (2017). Strategi Kesatuan Negatif Pada Masyarakat Kampung Adat Cireundeu. The 1st Education and Language International Conference Proceedings Center for International Language Development of Unissula. Website: jurnal.unissula.ac.id/index.php/ELIC/article/viewFile/1251/959, Diakses pada tanggal 23 Januari 2018.

Putranto, Kelik dan Taofik, Ahmad (2014). Pola Diversifikasi Konsumsi Pangan Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi Jawa Barat. Jurnal Istek, Edisi Juli 2014 Volume VIII No. 1. Website: http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/istek/article/view/215/230, Diakses pada tanggal 7 Februari 2018.

Noviandi, Ilham Pratama (2014). Pemanfaatan Tumbuhan Obat pada Masyarakat Kasepuhan Kampung Ciptarasa dan Ciptagelar Sukabumi.. Skipsi, Institut Pertanian Bogor. Website: repository.ipb.ac.id/handle/123456789/71709. Diakses pada tanggal 23 januari 2018.

Saleha, Qoriah (2005). Kajian Pola dan kebiasaan makanan Masyarakat Cireundeu di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi, Kabupaten Bandung. EPP.Vol.2.No.1.2005:22-28. . Website: http://agb.faperta.unmul.ac.id/wp-content/uploads/2017/04/jurnal-vol-2-no-1-qoriah.pdf. Diakses pada tanggal 7 Februari 2018.

Sunyoto, Marleen  dan Yuliana, Tri (2016). Optimasi Formula Produk Ekstrusi Berbasis Rasi Sebagai Pangan Pokok Alternatif. Jurnal Penelitian Pangan Volume 1.1, Agustus 2016 P - ISSN: 2528-3537; E - ISSN: 2528-5157 DOI: 10.24198/jp2.2016.vol1.1.06. Website: http://jurnal.unpad.ac.id/jp2/article/viewFile/8849/5314. Diakses pada tanggal 7 Februari 2018.

Website

Admin (2017). Kampung Budaya Jalawastu Ketanggungan Brebes. Website: https://gpswisataindonesia.info/2017/10/kampung-budaya-jalawastu-ketanggungan-brebes/. Diakses pada tanggal 23 Januari 2018.

Maharani, Lidya (2016). 3 Manfaat Daun Reundeu Untuk Kesehatan Yang Luar Biasa. Website:http://www.kinisehat.com/2016/03/manfaat-daun-reundeu-kesehatan-luar.html. Diakses pada tanggal 23 Januari 2018.

Ngasa, Upacara Tradisi di Kampung Budaya Jalawastu Sebagai Salah Satu Aset Budaya di Kabupaten Brebes.. Website: http://majapahit-kingdom.blogspot.co.id/2016/10/ngasa-upacara-tradisi-di-kampung-budaya.html. Diakses pada tanggal 23 Januari 2018

Pemanfaatan Tumbuhan Reundeu Untuk Kesehatan Tubuh. https://www.istana-herbal.com/blogs/rendeu/pemanfaatan-tumbuhan-rendeu-untuk-kesehatan-tubuh. Diakses: tanggal 23 Januari 2018.
Tanaman Herbal Reundeu dan Manfaatnya. Website: http://baitulherbal.com/tanaman-herbal/tanaman-herbal-reundeu-dan-manfaatnya/. Diakses pada tanggal 23 Januari 2018.

Kegiatan Cimahi

Headline News