Pencarian :

Artikel • Detail Artikel

Memakmurkan Masjid As-Salam Kota Cimahi

Tanggal diterbitkan: 31/01/2019


        Pada awal Januari 2019, Wali Kota Cimahi telah meresmikan masjid yang berada di lingkungan kantor Pemerintah Daerah Kota Cimahi, masjid tersebut diberi nama “Masjid As-Salam”. Hadir pada acara peresmian tersebut Kapolres Cimahi, Dandim 0609, Ketua MUI Kota Cimahi dan Pimpinan DPRD Kota Cimahi. Masjid yang berdiri megah di sekitar kantor Pemerintah Daerah Kota Cimahi telah memberikan warna tersendiri bagi kehidupan beragama kalangan ASN yang beragama islam, setidaknya harapan dan keinginan mereka yang bekerja di lingkungan Pemerintah Kota Cimahi memiliki masjid sebagai sarana ibadah utama umat islam para ASN akhirnya telah terwujud.

         Setelah diresmikan apa yang harus dilakukan umat islam? Tentunya adalah memakmurkannya dengan cara mengisi kegiatan-kegiatan di rumah Allah tersebut, selain menjalankan sholat  lima waktu, berinteraksi dalam bidang keagamaan, mencari ilmu agama dan menjadi sarana dakwah yang lebih realistis, karena demikian sejatinya masjid harus senantiasa hidup dalam berbagai kemakmurannya.

Allah Swt berfirman :

         “Hanya mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, menegakkan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah, maka merekalah orangorang yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk. Q.S. AtTaubah : 18.

         Ayat tersebut menjelaskan bahwa memakmurkan atau memberdayakan masjid Allah adalah kewajiban seorang mukmin dan sebagai bukti orang beriman secara paripurna. Akses umat Islam yang berkunjung ke kantor Pemerintah Kota Cimahi kian mudah untuk mengunjungi tempat ibadah menyusul kehadiran masjid As-Salam yang ada di sekitar Kantor Pemerintah Daerah Kota Cimahi.

         Hakikat Masjid Kata “Masjid” terulang sebanyak dua pulu delapan kali di dalam al-Qur’an. Dari segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar kata “sajada – sujud”, yang berarti patuh, ta’at, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syari’at, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang di khususkan untuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya tempat bersujud.[1]

         Masjid adalah rumah Allah di muka bumi ini. Jika kita ingin mencari surga dunia yang sesungguhnya, maka di sanalah, di rumah Allah itu, kita akan menemukan “kepingan“ surga di dunia ini. Ibarat sebuah perjalanan, maka di rumah Allah itulah, tapak-tapak perjalanan kita menuju surga yang hakiki di Yaumil Akhir nanti bermula. Masjid adalah tempat dimana kita mengadu, merintih dan tentu saja menyatakan kesyukuran pada Allah. Setidaknya dalam shalat-shalat fardhu yang kita kerjakan 5 kali sehari-semalam di sana. Semua rasa yang ada dalam jiwa betapa nikmatnya saat ia ditumpahkan dibelahan bumi paling dicintai Allah itu.[2]

         Bila kita merujuk kepada perjalanan sejarah ketika Nabi Muhammad Saw akan membangun sebuah masyarakat, maka yang diutamakan adalah membangun masjid. Ini pula yang terjadi sa’at akan membangun kota Madinah (dulunya bernama Yasrib) dengan terlebih dahulu membangun fondasi masyarakat melalui masjid. Dari masjid yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma inilah beliau membangun masjid yang besar, membangun dunia ini, sehingga kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti namanya) yang arti harfiahnya adalah “tempat peradaban”, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia. Ketika Nabi memilih membangun masjid sebagai langkah pertama membangun masyarakat madani, konsep masjid bukan hanya sebagai tempat shalat, atau tempat berkumpulnya kelompok masyarakat tertentu, tetapi masjid sebagai majlis untuk memotifisir atau mengendalikan seluruh masyarakat (Pusat Pengendalian Masyarakat). Tidak heran apabila masjid di zaman Rasulullah SAW yang didirikan atas dasar taqwa (ussisa ‘alattaqwa) itu berubah menjadi tempat yang multi-fungsi. Mulai dari pusat kegiatan umat, tempat pendidikan, pengembangan ekonomi umat, kesehatan umat dan ketahanan umat.

         Oleh karena itu, optimalisasi fungsi masjid As-Salam Kota Cimahi dapat juga bermanfa’at untuk pembinaan jama’ah dan masyarakat pada umumnya, bukan saja dalam aspek kegiatan ibadah ritual tetapi juga bagi pembinaan aspek wawasan sosial, ekonomi, serta wawasan lainnya sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman khususnya seperti yang kita saksikan sekarang ini. Karena itu orang yang dimasukkan dalam organisasi masjid adalah orang-orang yang :

a.    Netral, karena menyangkut komunitas yang heterogen.

b.    Berorientasi pada pengabdian tapi mampu bekerja karena hanya menginginkan imbalan akhirat.

c.    Jujur dan transparan, karena menyangkut umat, dan pertanggung jawaban kepada Allah Swt.

d.    Stabilisator, karena fungsi utamanya adalah membangun komunitas yang utuh.

e.    Dinamisator, karena mereka mempunyai tanggung jawab untuk menyiarkan agama dan mencerdaskan masyarakat untuk memahami agama.

f.     Modernisator, berjiwa pelopor dan dapat dijadikan teladan bagi masyarakatnya.

g.    Katalisator, karena terjadinya perubahan-perubahan yang dahsyat dalam kehidupan, sehingga orang yang duduk dalam organisasi masjid perlu menterjemahkan segala perubahan tersebut dan bila perlu membuat filter-filter bagi masyarakat.[3]

Wallahu ‘alam



[1] Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an/Masjid, Media isnet, 2007, hlm.1

[2] Wahid bin Abdissalam, 90 kesalahan dalam masjid, Pustaka Alkausar, 2002

[3] Noor Achmad, Managemen Kemasjidan, Jurnal Dimas IAIN Walisongo, 2002

Kegiatan Cimahi

Headline News