Loading...

Melihat Pengolahan Sampah Plastik jadi BBM Solar di BSSI Melong

Riva Adam Puteri 28 April 2026 83 kali dilihat
Bagikan:
Melihat Pengolahan Sampah Plastik jadi BBM Solar di BSSI Melong

CIMAHI - Bank Bank Sumberdaya Sampah Induk (BSSI) - Melong 26 di Kota Cimahi memperkenalkan bahan bakar alternatif bernama Petasol, sejenis bahan bakar minyak (BBM) yang dihasilkan oleh mesin pengolah limbah plastik dengan metode Pieolisis Fastpol.

Di sana, proses dari mulai sampah plastik low value datang lalu dilakukan penggibrikan, dimasak menggunakan mesin Pieolisis Fastpol hingga meniadi BBM jenis solar atau Petasol. Sampah-sampah plastik dikirim nasabah digibrik terlebih dahulu lalu dimasukan ke dalam mesin untuk dilakukan proses memasak yang membutuhkan waktu sekitar 8 jam sebelum akhirnya menjadi BBM.

"Kalau di sini baru jalan hampir dia tahun. Petasol ini setara dengan solar premium paling tinggi kualitasnya," kata Lionardo Sutandi, salah seorang pendiri BSSI-Melong 26, Selasa (28/4/2026).

Lionardo mengatakan ide ini juga berangkat dari kebingungan untuk mengurai sampah plastik yang memiliki nilai ekonomi rendah seperti plastik. Menggunakan mesin pirolisis yang secara prinsip mampu mengubah plastik menjadi gas. Pada mesin pirolisis, terdiri atas empat komponen utama di antaranya reaktor, sistem pemanas tungku, kondensor, serta tangki penampung.

"Plastik low value itu bingung mau diapakan, akhirnya dibakar. Nah, kami gelisah, kemudian coba cari solusi, ternyata sampah plastik ini bisa diubah menjadi BBM, bisa diolah menjadi bahan bakar minyak terbarukan," kata Lionardi.

Langkah mereka mengubah plastik menjadi BBM sebetulnya sesederhana mengembalikan benda tersebut ke asalnya. Sebab plastik asal muasalnya dari minyak bumi dan gas alam. Sehingga ketika diolah pada mesin pirolisis, secara prinsip mereka mengembalikan lagi bentuk plastik pada sumbernya.

"Plastik itu rantai karbonnya panjang, ribuan rantai karbon. Kami pecah jadi rantai karbon yang pendek, yaitu solar dan ternyata bisa. Jadi, alat ini memutus rantai karbon yang asalnya panjang menjadi hanya 5-20 rantai karbon, yaitu solar. Bentuknya jadi cair," ujar Lionardi.

BBM jenis solar yang mereka hasilkan dinamai dengan Petasol yang berarti Polyethylene to Alternatif Solar atau bisa diartikan plastik menjadi alternatif solar melalui serangkaian proses pengolahan itu tadi.

Lionardi menyebut saat ini kapasitas produksi Petasol melalui mesin pirolisis generasi keenam mencapai 75 kilogram sampah plastik setiap harinya. Jenis sampah yang mereka olah yakni semua jenis sampah kecuali yang berbahan baku PVC. Total solar yang dihasilkan dalam sekali produksi mencapai 60-70 liter saja.

"Alat ini kapasitasnya 75 kilogram per hari, tapi dengan kualitas bahan baku sekarang, rata-rata kami dapat 60-75 persen. Jadi, kurang lebih dapat 60 liter sampai 70 liter BBM yang bisa kami hasilkan," terang Lionardi.

Menurut Lionardi, yang paling banyak menggunakan produk olahan mereka yakni para pemborong untuk mengoperasikan alat-alat berat, lalu petani, hingga nelayan di daerah-daerah. Harga jualnya hanya Rp15 ribu per liter atau jauh dibawah pasaran BBM kualitas serupa yang dijual pemerintah. Namun sayang kapasitas produksi aaat ini tak menutupi permintaan yang terus berdatangan.

"Sasaran kami tentunya masyarakat kecil sebetulnya, seperti petani kan tidak boleh bawa jerigen ke pom bensin, akhirnya mereka kesulitan. Kemudian nelayan, kami juga sudah masuk. Bahkan mobil premium, karena kami sudah lolos 17 parameter untuk solar terbarukan, sudah lolos uji performa 50.000 km. Jadi, bisa masuk ke mobil premium," pungkas Lionardi. (Bidang IKPS)**