Loading...

Ngatiyana, Pawai Ogoh-Ogoh Jadi Simbol Persatuan Lintas Agama di Cimahi

Riva Adam Puteri 18 Maret 2026 55 kali dilihat
Bagikan:
NotFound
CIMAHI - Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026 di Kota Cimahi berlangsung meriah melalui pawai budaya ogoh-ogoh lintas etnis dan agama yang digelar di Lapangan Pussenarhanud, Jalan Sriwijaya Raya No.1, Setiamanah, Cimahi Tengah, Selasa (17/3/2026).

Perayaan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, serta melibatkan berbagai elemen masyarakat dari beragam latar belakang suku dan agama. Pawai tersebut menjadi simbol kuat harmoni sosial di tengah keberagaman, terlebih karena perayaan Nyepi tahun ini berdekatan dengan bulan suci Ramadan.

Ngatiyana menekankan bahwa momen ini mencerminkan nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat Cimahi. 

Ia menyebut, perayaan Nyepi yang berlangsung bersamaan dengan Ramadan menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk menjaga persatuan.

"Yang di sini kolaborasi antara agama yang satu dengan yang lain saling menghargai dan menghormati. Di sinilah letaknya Cimahi, kerukunan dikedepankan," kata Ngatiyana usai pawai ogoh-ogoh.

Pawai budaya ini diselenggarakan oleh Pura Wira Loka Natha dan melibatkan partisipasi 23 etnis serta lintas agama, mulai dari Hindu, Islam, hingga berbagai komunitas lainnya. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menunjukkan kuatnya semangat inklusivitas di Kota Cimahi.

Ngatiyana menyampaikan apresiasi atas kelancaran kegiatan yang berlangsung tertib dan aman. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara, termasuk perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan jajaran TNI, khususnya Danpusdik Arhanud yang telah menyediakan lokasi kegiatan.

"Alhamdulillah, pelaksanaan hari ini lancar, aman dalam rangka yaitu peringatan Hari Nyepi," kata Ngatiyana.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pawai budaya ogoh-ogoh bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi representasi keberagaman yang dimiliki Kota Cimahi. Dengan kehadiran puluhan etnis dari berbagai daerah di Indonesia, kegiatan ini mencerminkan miniatur persatuan nasional.

"Pelaksanaan ini kenapa dilakukan Pawai Budaya, yaitu menandakan bahwa Cimahi ini terdapat 23 etnis, kemudian beberapa agama semuanya ada di sini," ujarnya.

Ngatiyana juga menegaskan bahwa keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama. Ia menyebut, Cimahi menjadi contoh bagaimana masyarakat dari berbagai latar belakang dapat hidup berdampingan secara harmonis.

"Dari Sabang sampai Merauke ada, menunjukkan bahwa Cimahi walaupun bermacam-macam suku, agama, dan ras etnis, tetapi tetap bersatu," tegas Ngatiyana.

Menurutnya, nilai utama yang harus terus dijaga adalah persatuan dan kesatuan, terutama di tengah dinamika sosial yang terus berkembang. Ia berharap semangat toleransi yang tercermin dalam pawai budaya ini dapat terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pawai ogoh-ogoh lintas etnis dan agama ini pun menjadi salah satu agenda penting dalam memperingati Hari Nyepi di Cimahi, sekaligus memperkuat pesan bahwa keberagaman adalah fondasi utama dalam menjaga persatuan bangsa.

"Sehingga Cimahi dalam keadaan aman, kondusif, tertib, rukun, saling menghargai, dan saling menghormati lintas agama dan lintas etnis di Kota Cimahi," tandasnya. (Bidang IKPS)**